Kamis, 25 Juli 2013

Resume MBC Day 10


MBC Day 10 dilaksanakan pada hari Rabu, 24 Juli 2013. Peserta MBC berkumpul di selasar basement Labtek VIII pada pukul 13.44. pada apel siang kali ini, peserta MBC yang hadir sebanyak 169 orang dan 1 orang terlambat. Seniro-senorita kecewa karena peserta MBC kali ini jauh dari kuorum yang telah disetujui ketua angkatan kami yaitu kuorum fisik 210 orang. Oleh karena itu, kami semua mendapat konsekuensi dari seniro Hasnan sebagai TaDis, yaitu menuliskan alasan seringnya tidak mencapai kuorum fisik di blog angkatan sebanyak minimal 80 kata di menu Tentang Kami. Selain itu, peserta MBC harus menyebarkan link blog angkatan ke semua jejaring sosial yang dimiliki. Di akhir apel siang ini, seniro Reinhart menyampaikan pesan yang patut dicamkan baik-baik yaitu setiap manusia di dunia ini diciptakan oleh Yang Maha Kuasa itu unik dengan kemampuannya masing-masing untuk memecahkan masalah yang ada di sekitarnya yang harus dikembangkan. Pesan berikutnya diharapkan pada day ini peserta MBC harus bersemangat untuk menjalani MBC kali ini.

Setelah apel, kami mendapatkan materi tentang Palapa HME ITB. Palapa merupakan kegiatan community development yang dikembangkan oleh HME ITB. Palapa HME ITB diprakarsai oleh mahasiswa teknik elektro ITB tahun 2005. Nama Palapa ini memiliki filosofi sebagai janji dari Mahapatih Gadjah Mada yang berkeinginan menyatukan nusantara serta berawal dari penamaan bagi satelit pertama Indonesia.

Proyek pertama Palapa, yaitu pembangunan PLTA skala kecil dengan tujuan agar daerah yang akan dibangun PLTA merupakan daerah yang mandiri akan energi. Proyek Palapa ini  bernama Palapa Jaya yang merupakan proyek peserta MBC angkatan 2005 yang mulai digagas pada tahun 2006. Proyek ini dilaksanakan di Desa Jayamukti, Kecamatan Cihurip, Kabupaten Garut. Teknologi yang digunakan adalah pembangkit listrik pikohidro dengan daya yang dihasilkan sekitar 5 kW. Proyek ini direalisasikan pada tahun 2007 dan diresmikan pada tahun 2008. Proyek Palapa yang pertama ini mengundang perhatian banyak pihak sehingga memiliki sponsor yang banyak bahkan sampai disiarkan di sebuah acara di sebuah televisi swasta.

Proyek kedua Palapa  atau dikenal dengan Palapa II dilaksanakan di Desa Mekarwangi, Kabupaten Garut. Dipilih Kabupaten Garut dikarenakan berdasarkan data yang ada, masih terdapat ratusan kabupaten yang masih kurang fasilitas yang tersedia dan salah satunya Kabupaten Garut.Proyek Palapa II ini dimulai dengan survey lokasi tahun 2008, kemudian dilakukan eksekusi program di tahun 2009 hingga selesai pada April 2010. Teknologi yang digunakan adalah pembangkit listrik tenaga surya 10 x 100 Wp yang ditujukan untuk penerangan jalan, masjid, dan rumah baca HME. Proyek ini diketuai oleh Ramadhani Wahono. Dana untuk Palapa II ini berasal dari sponsor-sponsor yang jumlah totalnya kisaran delapan puluh jutaan.

Proyek ketiga Palapa yang lebih dikenal Palapa III dilaksanakan di desa yang sama dengan proyek Palapa II, Desa Mekarwangi, Kabupaten Garut. Proyek ini dimulai dengan survey pada Agustus 2011. Teknologi yang digunakan pada proyek ini adalah maintenance PLTS yang merupakan hasil dari proyek Palapa II dengan melakukan penggantian baterai. Pada Palapa III lebih diutamakan kegiatan sosial seperti rumah belajar Palapa III, pembangunan peternakan domba, serta peternakan ikan lele. Proyek Palapa III diketuai oleh M. Fariz.
Kegiatan lain yang dilaksanakan oleh HME antara lain:
1.  Road to Palapa 4
2.  Training comdev dan pelatihan
3.  Camping
4.  Simulasi live-in
5.  Kunjungan ke Ibeka
6.  KKN Tematik ITB
7.  Ekspedisi Pelita Muda
8.  Gebrak Indonesia
9. Wae Rebo Power. Kegiatan ini dilaksanakan di Wae Rebo, Flores, Nusa Tenggara Timur yang fokus mengembangkan pembangkit tenaga listrik mikrohidro untuk menggantikan teknologi pembangkit tenaga listrik yang sudah ada di daerah itu, yaitu generator diesel. Pembangkit listrik tenaga mikrohidro ini bermanfaat untuk mengolah komoditas utama daerah Wae Rebo yaitu kopi.

Materi berikutnya adalah Community Development. Community Development atau yang disingkat Com-Dev merupakan serangkaian kegiatan yang ditujukan untuk memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup. Perbedaan antara Community Service dan Community Development  adalah Com-Dev bersifat berkelanjutan sedangkan Community Service bersifat eventual. Urutan tahapan yang dilakukan dalam Com-Dev adalah sebagai berikut:
a.      Identifikasi sosial
b.      Identifikasi program
c.       Penilaian program
d.       Aplikasi program
e.       Monitoring dan evaluasi
f.        Audit sosial
g.       Memberikan masukan bagi komoditas dan program selanjutnya

Sebelum menginjak acara selanjutnya, peserta MBC dipersilakan untuk ishoma dari pukul 15.15 hingga pukul 15:45. Setelah itu, peserta mendapatkan materi singkat mengenai Problem Solving yang disampaikan oleh Bandito Alan Yudhautama.
Penjelasan yang kami dapatkan mengenai problem solving, yaitu dalam memecahkan masalah, sebagian besar orang akan mencari gambaran besar dari masalah itu kemudian menemukan framework dan melakukan penyelesaian. Misalnya, ketika kita ingin menyelesaikan sebuah puzzle, kita biasanya memahami terlebih dahulu gambar yang akan disusun kemudian menyelesaikan puzzle yang akan disusun dari tepi puzzle sampai semua tersusun. Pola umum penyelesaian masalah adalah mengidentifikasi masalah, menganalisa, membuat strategi, dan mengeksekusi solusi. Sedangkan framework yang biasa digunakan adalah DSPA yang merupakan singkatan dari Define the Problem (D), Structure the Problem (S), Prioritize Issues (P), dan Action Plan (A). Langkah pertama saat melakukan pendefinisian masalah (D), masalah harus didefinisikan dengan SMART (specific, measurable, actionable, realistic, dan time bound). Kemudian saat membuat struktur masalah (S), bisa digunakan Issue Tree yang merupakan solusi-solusi yang terbagi dalam bagan mulai dari yang umum hingga solusi yang spesifik. Setelah itu, dalam membagi prioritas solusi (P) bisa digunakan Impact-Effort Matrix yang merupakan matriks yang membagi solusi berdasarkan usaha yang dikeluarkan (effort) berbanding dengan dampak yang dihasilkan (impact) mulai dari yang rendah hingga yang tinggi. Setelah membuat skala prioritas, solusi direalisasikan sesuai urutan skala prioritas.

Setelah mendapatkan materi hari ini, peserta juga mendapatkan tugas penerapan dari materi hari ini, yaitu membuat proyek angkatan berupa kegiatan Community Service yang bertujuan merealisasikan solusi dari masalah yang ada di sekitar kita di lingkup Kabupaten Bandung. Proyek angkatan ini harus mencapai realisasi maksimal 2 bulan terhitung mulai 24 Juli 2013 dengan penanggung jawabnya adalah Juniro Andas. Selain itu, buku lintas angkatan juga dilanjutkan kembali pengerjaannya terutama bagi mereka yang belum mencapai jumlah yang telah disepakati ditambah 2 orang bandito atau maharani.
Esensi yang didapat dari MBC Day 10 ini antara lain pengetahuan mengenai Palapa HME ITB sebagai bentuk pengabdian masyarakat dari HME serta pengetahuan mengenai keahlian menyelesaikan masalah. Kedua materi ini sangat berkaitan terutama dengan tugas proyek angkatan.


Muhammad Syarifudin/ 16512092/ 13212053




Tidak ada komentar:

Posting Komentar